Bagaimana Emas Mempengaruhi Mata Uang

Emas adalah salah satu logam yang paling banyak dibahas karena perannya yang menonjol baik di dunia investasi maupun konsumen. Meskipun emas tidak lagi digunakan sebagai bentuk mata uang utama di negara maju, namun emas tetap memiliki dampak yang kuat terhadap nilai mata uang tersebut. Dan lagi terdapat korelasi kuat antara nilai dan kekuatan perdagangan pertukaran mata uang asing (valuta asing).

Valuta asing adalah pertukaran satu mata uang dengan mata uang lain atau konversi satu mata uang ke mata uang lain.

Valuta asing juga mengacu pada pasar global dimana mata uang diperdagangkan hampir sepanjang waktu. Pusat perdagangan terbesar adalah London, New York, Singapore dan Tokyo. Istilah valuta asing biasanya disingkat sebagai “forex” dan kadang-kadang sebagai “FX.”

Untuk membantu menggambarkan hubungan antara perdagangan emas dan valuta asing ini, pertimbangkan kelima aspek penting ini:

1. Emas pernah digunakan untuk mendukung mata uang fiat.
Pada awal Kekaisaran Bizantium, emas digunakan untuk mendukung mata uang fiat, atau berbagai jenis mata uang yang dianggap sebagai legal tender di negara asal mereka. Emas juga digunakan sebagai mata uang cadangan dunia sampai abad ke-20; Amerika Serikat menggunakan standar emas sampai tahun 1971 dan kemudian Presiden Nixon menghentikannya.

hqdefault

Uang Fiat (mata uang fiat) adalah mata uang yang telah dinyatakan pemerintah sebagai tender legal, namun tidak didukung oleh komoditas fisik. Nilai uang fiat berasal dari hubungan antara penawaran dan permintaan daripada nilai bahan dari uang tersebut. Secara historis, sebagian besar mata uang didasarkan pada komoditas fisik seperti emas atau perak, namun uang kertas semata-mata didasarkan pada kepercayaan dan penghargaan ekonomi.

Salah satu alasan penggunaan emas adalah bahwa emas digunakan untuk membatasi jumlah uang yang diizinkan untuk dicetak oleh negara. Ini karena negara-negara tersebut memiliki persediaan emas yang terbatas, sama seperti sekarang. Hingga standar emas ditinggalkan, negara-negara tersebut tidak bisa begitu saja mencetak uang kartal fiat mereka kecuali jika mereka memiliki emas dalam jumlah yang sama. Meski standar emas tidak lagi digunakan di negara maju, beberapa ekonom merasa kita harus kembali ke masa standar emas itu karena volatilitas dolar AS dan mata uang lainnya.

2. Emas digunakan untuk pelindung nilai terhadap inflasi.
Investor biasanya membeli emas dalam jumlah besar ketika negara mereka mengalami tingkat inflasi yang tinggi. Permintaan emas meningkat selama masa inflasi karena nilai yang inheren dan pasokan yang terbatas. Karena emas tidak bisa diencerkan, maka emas mampu mempertahankan nilainya jauh lebih baik daripada bentuk mata uang lainnya.

Misalnya, pada bulan April 2011, investor mengkhawatirkan penurunan nilai mata uang fiat dan harga emas didorong ke angka $1.500 per ounce dan kenaikan harga emas tersebut sangat lah mengejutkan. Hal ini mengindikasikan sedikit kepercayaan pada mata uang di pasar dunia dan ekspektasi stabilitas ekonomi di masa depan sangat suram.

3. Harga emas mempengaruhi negara-negara yang mengimpor dan mengekspor emas.
Nilai mata uang suatu negara sangat terkait dengan nilai impor dan ekspornya. Bila suatu negara mengimpor lebih banyak dari yang di ekspor, maka nilai mata uang negara tersebut akan menurun. Di sisi lain, nilai mata uang negara tersebut akan meningkat bila suatu negara merupakan eksportir bersih. Dengan demikian, sebuah negara yang mengekspor emas atau memiliki akses ke cadangan emas akan melihat peningkatan kekuatan mata uangnya saat harga emas meningkat, karena ini meningkatkan nilai total ekspor negara tersebut.

Dengan kata lain, kenaikan harga emas bisa membuat surplus perdagangan atau membantu mengimbangi defisit perdagangan. Sebaliknya, negara-negara yang merupakan importir emas besar pasti akan berakhir memiliki mata uang yang lebih lemah saat harga emas naik. Misalnya, negara yang mengkhususkan diri dalam memproduksi produk yang dibuat dengan emas, namun mereka sendiri kekurangan cadangan emas, maka negara itu bisa menjadi importir emas besar. Dengan demikian, mereka akan sangat rentan terhadap kenaikan harga emas.

4. Pembelian emas cenderung mengurangi nilai mata uang yang digunakan untuk membelinya.
Ketika bank sentral membeli emas, hal itu mempengaruhi penawaran dan permintaan mata uang domestik dan dapat menyebabkan inflasi. Hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa bank mengandalkan pencetakan lebih banyak uang untuk membeli emas, dan dengan demikian menciptakan kelebihan pasokan mata uang fiat.

5. Harga emas sering digunakan untuk mengukur nilai mata uang lokal, namun ada beberapa pengecualian.
Banyak orang secara keliru menggunakan emas sebagai proxy definitif untuk menilai mata uang suatu negara. Meskipun tidak diragukan lagi ada hubungan antara harga emas dan nilai mata uang fiat, namun tidak selalu ada hubungan terbalik seperti yang diperkirakan banyak orang.

Misalnya, jika ada permintaan yang tinggi dari industri yang membutuhkan emas untuk produksi, hal ini akan menyebabkan harga emas naik. Tapi ini tidak akan mengatakan apapun tentang mata uang lokal, yang mungkin sangat dihargai pada saat bersamaan. Dengan demikian, sementara harga emas sering dapat digunakan sebagai cerminan nilai dolar AS, kondisi saat itu juga perlu dianalisa untuk menentukan apakah hubungan terbalik antara emas dan mata uang itu memang ada.

Catatan Penting
Emas memiliki dampak besar pada nilai mata uang dunia. Meskipun standar emas telah ditinggalkan, emas sebagai komoditas dapat bertindak sebagai pengganti mata uang fiat dan digunakan sebagai pelindung nilai yang efektif terhadap inflasi. Tidak ada keraguan bahwa emas akan terus memainkan peran integral di pasar valuta asing. Oleh karena itu, emas adalah logam penting untuk diikuti dan dianalisis karena kemampuan uniknya untuk mewakili kesehatan ekonomi lokal dan internasional.


Share
This entry was posted in Arikel emas. Bookmark the permalink.