Berkilau sesaat, emas masih sulit bangkit

JAKARTA. Di tengah fluktuasi bursa global dan menjelang rapat Federal Open Market Committe (FOMC) pada Kamis (28/1), harga emas menguat. Mengutip Bloomberg, Selasa (26/1), harga emas kontrak pengiriman Februari 2016 di Commodity Exchange naik 0,98% ke US$ 1.116,2 per ons troi. Ini harga tertinggi dua bulan terakhir.

Reli harga dalam dua hari, mendongkrak harga logam mulia ini 1,82%. Berkilaunya harga dunia, menular ke harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Mengutip www.logamulia.com, kemarin harga emas naik menjadi Rp 547.000 per gram dibanding sehari sebelumnya Rp 544.000 per gram.

Sementara harga buyback Antam juga naik dari Rp 487.000 (25/1) menjadi Rp 491.000 per gram, kemarin.

Analis Finex Berjangka Nanang Wahyudin menilai, pasar global, terutama Asia masih bergejolak. Di saat seperti ini, investor mencari aset yang lebih aman, seperi emas. Kendati begitu, tren harga emas ke depan masih melemah.

Analis SoeGee Futures Alwy Assegaf bilang, secara fundamental, permintaan emas belum naik signifikan dalam waktu dekat. Perlambatan ekonomi global menggerus daya beli negara-negara konsumen. Buktinya, menjelang Imlek kali ini, belum ada kenaikan permintaan di China. “Sedangkan pasokan global masih tinggi,” ujarnya.

Lihat saja, salah satu produsen emas terbesar di Kanada, Detour Gold menargetkan produksi tahun ini naik 12% dari tahun lalu, ke 540.000-590.000 ons. Tahun lalu, produksinya tercatat naik 11%.

Memang, produsen lain, seperti Eldorado Gold berencana memangkas produksi menjadi 565.000-630.000 ons, dari realisasi produksi tahun lalu 723.532 ons.

“Jika produsen masih cenderung berlomba mengerek produksi, maka faktor ketidakpastian di pasar global tidak akan mampu mendongkrak harga emas signifikan,” jelas Alwy.

Ia memprediksi, di semester I-2016, emas masih diwarnai tren bearish, tapi terbatas. Nanang menduga, dalam jangka pendek, reli harga emas bisa berlanjut. “Arah pergerakan emas selanjutnya merespons hasil rapat FOMC. Jika sesuai perkiraan pasar, emas melaju ke US$ 1.120-US$ 1.130 per ons troi,” proyeksi Nanang.

Namun jika hasil FOMC hawkish, si kuning bisa kembali terpuruk ke bawah US$ 1.100 per ons troi. Seiring turunnya ketidakpastian, fluktuasi harga emas berkurang.

Menurut Simona Gambarini, Ekonom Komoditas Capital Economics London, usai penantian panjang kenaikan suku bunga Fed Desember lalu, emas seharusnya kembali ke fungsi tradisionalnya. “Sebagai lindung nilai,” ujarnya kepada Wall Street Journal, Senin (25/1).

sumber: kontan

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.