Data Kerja AS `Jeblok`, Harga Emas Berkilau – Liputan6.com

Chicago : Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Merchantile Exchange pada perdagangan Rabu (23/10/2013) ini naik di tengah spekulasi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menunda perubahan kebijakan dana stimlusnya. Hal ini dilakukan The Fed guna mendororong perekonomian AS.

Seperti dikutip dari Xinhua, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember naik US$ 26,8 atau 2,04% menjadi US$ 1.342,6 per ounce. Data FactSet menunjukkan, harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak 19 September lalu.

Harga emas meningkat pesat setelah laporan tenaga kerja AS yang baru dirilis tampak mengecewakan. Dengan kondisi seperti itu, para analis pasar yakin The Fed tak akan memangkas program pembelian obligasi bulanannya sampai kuartal II tahun depan.

Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan, negaranya berhasil menambah 148 ribu pekerjaan pada September. Meski begitu, angka tersebut meleset dari prediksi pasar yang mencapai 185 ribu pekerjaan.

Sementara itu, angka pengangguran hanya berkurang 7,2% lebih rendah dari bulan Agustus sebesar 7,3%. Menurut data Departemen tenaga kerja AS yang rilisnya sempat tertunda karena adanya shutdown pemerintah, angka tersebut merupakan yang terendah sejak November 2008.

Selama ini program pembelian obligasi AS telah menopang harga emas mengingat dana stimulusnya cenderung menekan harga dolar AS dan menyebabkan inflasi. Sementara emas seringkali dijadikan investasi pelindung dari inflasi.

Tak hanya harga emas yang tercatat naik, logam lain seperti perak juga mengalami peningkatan. Harga perak untuk pengiriman Desember naik US$ 51,2 sen atau 2,3% menjadi US$ 22,79 per ounce. (Liputan6.com)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.