Dilema Yellen: Suku Bunga The Fed Naik Bikin Dolar Kuat, Bahaya Buat AS

Hong Kong -Hari ini bank sentral Amerika Serikat (AS), yaitu Federal Reserve (The Fed) mulai melakukan rapat yang salah satu agendanya menentukan kenaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate), yang ditunggu-tunggu pasar keuangan dunia. Akankah suku bunga acuan ini naik?

Menurut Head of Global Markets PT Bank Permata Tbk, Jenny Widaja, kenaikan suku bunga acuan The Fed akan membuat dolar makin kuat. Ini akan berbahaya bagi AS, karena barang-barang ekspornya sulit laku.

“Chairwoman Yellen (Gubernur The Fed) berada dalam posisi dilematis juga. Karena kalau dia menaikkan Fed Rate maka dolar akan semakin kuat. Itu justru bahaya untuk mereka,” ungkap Jenny, di sela-sela acara penganugrahan AsiaMoney, di JW Marriott, Hong Kong, Rabu (17/9/2015).

Dolar yang semakin kuat akan membuat produk-produk AS menjadi semakin mahal di pasar ekspor. Hasilnya produk-produk tersebut menjadi kurang kompetitif ketika bersaing dengan produk serupa dari negara-negara asia yang nilai mata uangnya lebih rendah,

Namun demikian, Jenny berharap rapat The Fed bisa memberikan keputusan pasti berupa kenaikan. Karena bila keputusan kenaikan ini terus ditunda, kata dia, maka kondisi ekonomi dunia diprediksi masih akan berada dalam ketidakpastian dan terus bergejolak.

Jenny mengatakan, hanya 30% pelaku pasar keuangan dunia yang percaya The Fed akan menaikkan tingkat bunga acuannya, yang merupakan pertama kali sejak krisis keuangan global di 2008 lalu.

“Hanya 30% pasar yang percaya bahwa Fed Rate akan naik. Selebihnya percaya bahwa Fed Rate‎ masih akan dipertahankan pada posisi semula,” ujar dia.

Lantas apa dampak dari kenaikan suku bunga acuan ini terhadap Indonesia?

“Tergantung besar kenaikannya,” ujar Jenny.

Bila besaran kenaikannya hanya 25 basis poin atau 0,25% saja, maka hal tersebut tidak akan berdampak apa-apa pada Indonesia.

“Sebenarnya Bank Indonesia (BI) punya peluang menurunkan BI Rate (Suku Bunga acuan BI) sejak beberapa bulan lalu. Tapi tidak dilakukan karena mempersiapkan kenaikan Fed Rate bila diputuskan ada kenaikan. Jadi saya mau bilang, Indonesia sudah siap menghadapi kenaikan. Kalau hanya 25 basis poin Indonesia nggak akan terpengaruh apa-apa,” aku dia.

Menurutnya, kondisi berbeda akan dihadapi Indonesia bila kenaikan Fed Rate lebih dari 50 basis point. “Kalau kenaikannya 50-75 basis poin pasti akan ada guncangan lagi. Karena itui di luar espektasi (harapan) pasar. Bukan hanya Indonesia, negara lain juga pasti akan terdampak,” ujar dia.

Namun demikian, ia menegaskan, kemungkinan Fed Rate dinaikkan lebih dari 50% adalah hal yang hampir mustahil. Karena bila kenaikan terlalu tinggi justru akan berbahaya bagi negara adidaya tersebut. Karena kenaikan Fed Rate yang terlalu tinggi bisa mengundang penguatan dolar yang signifikan.

“Barang mereka bisa nggak laku karena kemahalan. Orang akan lari ke barang Jepang atau China yang lebih murah,” tegas dia.

Menghadapi situasi ini pelaku pasar diharapkan tidak perlu merespons berlebihan karena sejatinya kondisi fundamental ekonomi Indonesia tengah berada dalam kondisi yang baik.

sumber: detik.com

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.