Ekspor Emas Jawa Timur Diprediksi Anjlok 40 Persen

TEMPO.CO, Surabaya – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Budi Setyawan, memprediksi ekspor logam mulia asal Jawa Timur sepanjang tahun 2013 akan menukik turun hingga 40-an persen. Realisasi ekspor emas Jawa Timur tahun 2012 mencapai US$ 826 juta, tapi tahun ini diperkirakan hanya US$ 500 juta.

Budi melihat harga emas dunia yang tak stabil ikut mempengaruhi permintaan emas di tingkat internasional. “Pasar emas ini, kan, tergantung gejolak ekonomi dunia juga,” kata Budi kepada wartawan dalam pameran Surabaya International Jewellery 2013 di Hotel Shangri-La, Selasa, 8 Oktober 2013.

Negara-negara seperti Afrika Selatan, Hong Kong, Cina, dan India masih menjadi pasar utama ekspor emas Jawa Timur. Namun ketidakstabilan harga emas dunia ternyata juga memukul penjualan emas di dalam negeri. Konsumen cenderung menahan diri dan melihat momentum yang tepat untuk membeli emas di dalam negeri.

Namun, Budi berkeyakinan desain emas bisa membantu penjualan emas, baik di dalam maupun luar negeri. Menurut dia, nilai estetika yang tertuang dalam desain perhiasan emas adalah solusi mengambil celah pada saat harga emas tak bersahabat.

Konsumen membeli emas karena didorong faktor desain yang unik, bukan harga emasnya. Budi berharap pameran skala internasional dan terbesar di Indonesia bagian timur ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi perhiasan dalam negeri, mendorong pengrajin lebih kreatif, dan memberi peluang pelaku UMKM memasarkan produk emasnya. “Sama-sama kadarnya 10 gram, tapi orang pasti pilih desainnya yang bagus. Emas ini investasi yang memberi hasil imbal balik menjanjikan,” katanya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Perhiasan Emas dan Permata Indonesia, Iskandar Husein, menuturkan harga emas dunia saat ini sangat murah, berada pada kisaran Rp 1.300 per loko. Meski begitu, Cina masih berpotensi bagus bagi ekspor emas Indonesia.

Perekonomian Cina semakin membaik dan berimbas pada daya beli masyarakatnya. Adapun negara-negara di Eropa dan Afrika masih berkonsentrasi dengan krisis ekonomi. “Masyarakat Cina sekarang lagi euforia, mereka demen beli emas. Coba lihat di toko-toko emas di Hong Kong, mereka buat desain besar-besar,” ucapnya.

Secara umum, ia mengakui ekspor emas Indonesia sedikit lesu akibat krisis ekonomi dunia. Namun, Iskandar menegaskan, investasi emas masih menawarkan jaminan beli kembali. Jaminan ini mendorong masyarakat membeli emas sebagai investasi yang aman dan menjanjikan. Setiap perhiasan emas, kata dia, terkandung nilai emas murninya. Ia mengakui harga emas domestik juga bergantung pada fluktuasi harga emas dunia.

Pameran Surabaya International Jewellery 2013 ke-18 melibatkan Malaysia, Singapura, Hong Kong, Thailand, dan Italia. Pameran akan diikuti 150 peserta, termasuk 50 pengrajin IKM. Pameran ini berlangsung pada 10-13 Oktober 2013 di Hotel Shangri-La Surabaya. (Tempo.com)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.