Emas Melorot Terendah, Minyak Naik Tertinggi – surabayapost.co.id

JAKARTA – Harga emas dunia terus melemah di awal pekan ini. Kondisi pasar logam mulia terus tertekan karena keresahan investor akibat pengurangan stimulus (tappering) oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve. Hal tersebut mendorong dollar AS menjadi ‘safe haven’ dan emas kian ditinggalkan.

Mengutip data Reuters, Senin (9/12), harga emas dunia di pasar spot turun lagi hingga 0,2% atau berada di posisi 1.227,24 dollar AS per troy ounce (Rp 434.000/gram).

Sentimen AS terus membaik dengan dorongan menurunnya tingkat pengangguran hingga posisi terendahnya sejak 5 tahun lalu. Sebelumnya, pemerintah AS melaporkan, tingkat pengangguran turun menjadi 7% di November , tingkat pengangguran terendah dalam lima tahun. “Berita ekonomi di AS pekan lalu cukup baik sehingga meningkatkan harga,” kata Robin Mills, kepala konsultan di Manaar Energy Consulting and Project Management kepada Bloomberg di Dubai.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melambung ke harga tertingginya dalam enam minggu terakhir. Hal ini dikarenakan impor minyak mentah China naik di bulan November.

Harga minyak mentah WTI pengiriman Januari ada di posisi 97,70 dollar per barel (Rp 6.763/liter) atau naik 5 sen saat di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent acuan Eropa untuk pengiriman Januari turun 1% menjadi 111,60 dollar/ barrel (Rp 7.700/liter) di London.

Di pasar lokal, harga emas Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melorot di awal pekan ini. Anjloknya harga Antam mengikuti turunnya harga emas dunia di awal pekan ini.

Seperti dikutip dari data Logam Mulia, Senin (9/12), harga emas batangan pecahan 1 gram turun dari Rp 528.000/gram di akhir pekan lalu menjadi menjadi Rp 526.000/gram hari ini.

Sementara harga jual kembali ke ANTM atau buyback juga turun dari Rp 462.000/gram ke Rp 460.000/gram. “Untuk transaksi pembelian Emas Batangan datang Langsung ke PT Antam Tbk Jakarta setiap harinya kami batasi hingga maksimal 150 nomor antrean saja,” jelas Antam.

Rupiah Belum Aman

Meski nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menguat di posisi Rp 11.940/dollar dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 11.960/dollar, tapi kondisi belum aman.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan, terjadinya menilai pelemahan rupiah akhir akhir ini karena tingginya permintaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri yang cukup besar walaupun indikator utang masih aman.

“Rupiah melemah hingga mendekati Rp 12.000 per dollar AS karena banyaknya kebutuhan valas untuk bayar utang luar negeri,” kata Lana Soelistioningsih.

Dikatakan, utang luar negeri per September 2013, posisi utang luar negeri sebesar  259,9 miliar dollar AS atau naik dari posisi kuartal sebelumnya 257,3 miliar dollar AS. Jumlah itu terdiri dari utang luar negeri pemerintah 113,8 miliar dollar AS atau 43,7 persen dari total utang luar negeri.

Sementara utang luar negeri swasta sebesar 136,7 miliar dollar AS atau 52,6 persen dari total utang luar negeri dan utang luar negeri perbankan 22,4 miliar dollar AS. Lana menyebutkan permintaan terhadap valuta asing masih akan cukup tinggi untuk pembayaran utang tersebut. Pembayaran utang pemerintah dan swasta dari Januari hingga September 2014 tercatat 25,7 miliar dollar AS atau 2,9 miliar dollar AS per bulan.

Selain itu terdapat pembayaran aset yang mencapai 21 miliar dollar AS per tahun serta ada kemungkinan outflow karena rencana tapering the Fed.

Sementara suplay valas masih terbatas karena penerbitanobligasi global dan lelang FX swaps, neraca perdagangan yang masih defisit, pencairan utang pemerintah dan swasta serta dana asing potrofolio belum masuk secara signifikan.

Perlambatan ekspor dan PDB membuat indikator beban utang mencapai 41,1 persen melewati ambang batas aman 30 persen. Sehingga defisit neraca perdagangan membuat devisa tergerus serta membuat menurunnya cadangan devisa yang membuat fondasi rupiah menurun.

“Peran valas dari ekspor sudah diambil 40% lebih untuk bayar utang. Defisit necara perdaganggan membuat cadangan devisa tergerus,” tegasnya.ins

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.