Fed melenyapkan kilau emas

JAKARTA. Harga emas terkoreksi tajam, setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed kembali membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini. Pamor emas juga memudar karena laju permintaan si kuning terganjal perlambatan ekonomi global.

Mengutip Bloomberg, Kamis (29/10) pukul 14.00 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember 2015 di Commodity Exchange terpangkas 1,2% ke posisi US$ 1.161,5 per ons troi. Sepekan terakhir, harga terkikis 0,4%.

Faisyal, Research and Analyst Monex Investindo Futures, melihat, harga emas dibayangi peluang kenaikan suku bunga The Fed di akhir tahun ini. “Jika biasanya The Fed ragu, kali ini terlihat lebih yakin,” ujarnya.

Pelaku pasar khawatir, The Fed hanya melihat kondisi perekonomian AS. Dengan asumsi suku bunga The Fed naik, Faisyal menduga, harga emas akhir tahun ini bisa turun di rentang US$ 1.000-US$ 1.100 per ons troi.

Apalagi, jika permintaan emas fisik dari China dan India tidak menunjukkan peningkatan. Goldman Sachs dalam laporan tanggal 21 Oktober memprediksi, The Fed akan menaikkan suku bunga bertahap akhir tahun ini dan tahun 2016.

Proyeksi Goldman Sachs, harga emas di kisaran US$ 1.100 dalam tiga bulan ke depan dan US$ 1.000 dalam satu tahun. Faisyal memprediksi, tekanan harga emas berlanjut di jangka pendek.

Apalagi jika pertemuan Bank of Japan (BOJ) akhir pekan ini memutuskan penambahan stimulus bagi Negeri Sakura. Jika terjadi, yen melemah dan mengangkat dollar AS. Imbasnya akan menekan harga emas.

Permintaan emas

Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, menilai, penurunan harga emas setelah pernyataan The Fed merupakan respon yang wajar. “Saya sendiri masih ragu The Fed akan menaikkan suku bunga, apalagi harga minyak mentah masih rendah,” ujar Deddy.

Spekulan memanfaatkan pernyataan The Fed terkait suku bunga. Di sisi lain Deddy menilai, pasar memang butuh kepastian. Selanjutnya, berbagai data ekonomi AS akan menjadi perhatian investor.

Salah satunya, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2015 yang diprediksi turun ke 1,6%, dari sebelumnya 3,9%. Ada juga data nonfarm payroll yang dirilis 6 November mendatang. Permintaan emas secara fisik sebenarnya cukup tinggi.

Tahun 2014, permintaan China sebagai konsumen terbesar mencapai 973,60 ton. Akhir semester I-2015, permintaannya mencapai 497,3 ton dan diperkirakan mencapai 1.066 ton pada akhir tahun. “Investor China suka emas karena tak memiliki banyak alternatif investasi,” ujar Deddy.

Permintaan emas fisik di Eropa juga naik. Pada kuartal II-2015, permintaannya naik 14% dibanding periode sama tahun lalu menjadi 61 ton. Secara teknikal Deddy melihat harga emas di atas moving average (MA) 50 dan MA100.

RSI berada di area 51. Stochastic oversold di level 23. Moving average convergence divergence (MACD) berada di area positif level 7. Hari ini, Deddy memprediksi, harga emas menguat ke level US$ 1.147,90-US$ 1.170,10.

Dalam sepekan, harga bergerak di level US$ 1.140,90-US$ 1.193,10. Prediksi Faisyal, sepekan nanti, harga emas bergerak antara US$ 1.135- US$ 1.180 per ons troi. (investasi.kontan.co.id)(dk)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.