Harga Emas Bakal Makin Mahal Pekan Ini

Liputan6.com, Jakarta : Harga emas diprediksi bakal makin menguat setelah berhasil menembus ke atas level US$ 1.268 per ounce pada Jumat pekan lalu. Target atas selanjutnya di kisaran US$ 1.285 per ounce dengan support di kisaran US$ 1.257 per ounce.

“Sementara di bawah itu koreksi ke area US$ 1.236 per ounce kembali terbuka,” jelas Head research and Analyst Monex Investindo Future, Ariston Tjendra saat dihubungi Liputan6.com, Senin (27/1/2014)

Dalam dua hari terakhir, terlihat peralihan dari bursa saham ke emas. Kecemasan pelambatan manufaktur di China menekan indeks saham dan pelaku pasar mencari tempat aman untuk investasi.

“Kenaikan permintaan emas seasonal belakangan ini di Asia Timur juga mengangkat harga emas,” jelasnya.

Pada pekan ini, lanjut Ariston, pasar akan fokus pada hasil rapat kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan dirilis hari Kamis dini hari mengenai kelanjutan kebijakan penarikan stimulus moneter.

“Bila tapering dilanjutkan, harga emas bisa tertekan kembali ke support US$ 1.257 per ounce dan mungkin bisa mengarah ke US$ 1.236 per ounce,” tutur dia.

Hal senada diungkapkan analis dari Megagrowth Futures Wahyu Tri Laksono. Menurut dia, sejak awal tahun emas menguat. Penguatan emas semakin mendapat angin setelah data non payroll (NFP) dirilis mengecewakan awal Januari lalu.

Pada pekan lalu, emas dibuka pada US$ 1.253 per ounce dan ditutup naik menjadi US$ 1.269 per ounce setelah sempat menyentuh US$ 1.272 per ounce.

“Jika emas berhasil bertahan di atas US$ 1.294, maka emas berpotensi meneruskan rebound-nya ke area US$ 1.300-US$ 1.325,” ungkap Wahyu.

Namun semakin meninggi emas, lanjut dia, terutama jika mendekati area US$ 1.262-US$ 1.335 maka potensi tekanan bearish akan semakin menegas terkait level overbought. Kini support terdekat berada di US$ 1.255 per ounce. Tren jangka pendek akan kembali menjadi bearish jika emas jatuh di bawah US$ 1.230 untuk membuka pengujian level support di US$ 1.200, US$ 1.190, dan US$ 1.185.

Support jangka pendek terkuat berada di US$ 1.180. Jika US$ 1.180 tertembus, maka tren bearish jangka menengah kembali menegas untuk membuka jalan ke arah US$ 1.175 dan bahkan US$ 1.155.

“Pekan ini merupakan minggu yang sangat penting pada bulan ini, yaitu FOMC meeting 30 Januari (Kamis dini hari) yang diduga akan memulai penarikan stimulus The Fed,” papar dia.

Adapun data ekonomi penting AS lainnya pekan ini, yaitu data penjualan rumah baru (Senin), tingkat kepercayaan konsumen (Selasa), produk domestik bruto (PDB), klaim data pengangguran, dan data penjualan rumah tertunda (Kamis), serta sentimen konsumen(Jumat).

Secara umum data ekonomi tersebut diduga agak mengecewakan yang berpotensi mendukung penguatan emas. “Namun, bagaimanapun juga faktor fundamental terbesar bagi emas adalah hasil FOMC meeting. Jika keputusannya mempertegas kelanjutan penarikan stimulus moneter Fed, maka sepertinya emas akan sulit untuk melanjutkan penguatannya,” terangnya. (liputan6.com)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.