Harga Emas Merosot Tertekan Suku Bunga AS

Harga emas berjangka turun pada Jumat (31/7/2015), terimbas investor yang mengkhawatirkan tentang rencana kenaikan tingkat suku bunga AS, di mana sebagian memilih untuk menjual logam mulia juga karena tekanan penguatan dolar.

Melansir laman Wall Street Journal, kontrak emas yang paling aktif diperdagangkan untuk pengiriman Desember turun US$ 4,60 (0,4 persen) menjadi US$ 1,088.70 per troy ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange.

Harga emas telah mencapai posisi terendah dalam lima tahun karena pedagang mengantisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat ini.

Bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan biaya pinjaman di tahun ini, yang merupakan kenaikan pertama dalam hampir satu dekade.

Harga emas ditarik lebih rendah usai investor kembali membuat interpretasi dari pernyataan kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal, yang dirilis Rabu sore. “The Fed telah menjanjikan kenaikan tarif baru, dan mereka sudah berusaha keras untuk membuat pasar siap untuk itu,” kata Nolte.

Pejabat Fed memiliki tiga pertemuan yang lebih terjadwal untuk menetapkan kebijakan di tahun ini, di mana salah satunya berlangsung pada September.

“Ini benar-benar sebuah pertanyaan tentang kapan suku bunga akan naik, jika mereka akan naik, dan emas akan memiliki waktu yang sangat sulit dengan itu,” kata Ira Epstein, Broker Linn & Associates di Chicago.

Emas harus mengalah karena tidak membayar bunga atau dividen, dan harus berjuang untuk bisa bersaing dengan obligasi dan saham ketika harganya naik.

Pergeseran kebijakan moneter ikut memperkuat dolar, membuat emas dalam denominasi dolar lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Indeks Dollar, yang melacak dolar terhadap sekeranjang mata uang asing, naik 0,6 persen ke posisi 97,56. “Emas telah bertindak dan bereaksi terhadap dolar,” kata Paul Nolte, Manajer Portofolio Kingsview Asset Management.

Harga emas sempat naik setelah dirilisnya laporan yang menunjukkan ekonomi AS tumbuh melambat dari perkiraan pada kuartal pertama.

Namun kemudian produk domestik bruto, yang menjadi ukuran kondisi barang dan jasa, naik 2,3 persen pada kuartal kedua, lebih rendah dari harapan sebesar 2,7 persen.

(sumber: liputan6)

(tr)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.