Harga Emas Sentuh Level Terendah ke US$ 1.135 per Ons

Liputan6.com, Chicago – Mengawali pekan ini, harga emas berjangka merosot hingga sentuh level terendah dalam sebulan. Tekanan harga emas itu dipicu oleh sentimen bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga pada awal bulan depan masih membayangi.

Suku bunga bank sentral AS lebih tinggi dapat berdampak negatif ke harga logam seperti harga emas. Untuk pengiriman Desember, harga emas jatuh 0,5 persen atau US$ 5,5 menjadi US$ 1.135,90 per ons.

Pekan lalu, harga emas susut 1,8 persen. Meski demikian, harga emas masih mencatatkan keuntungan sebesar 2,4 persen pada Oktober 2015. Harga perak untuk pengiriman Desember ditutup turun 1 persen atau 16 sen ke level US$ 15,41.

Analis CMC Markets, Jasper Lawler menuturkan, data ekonomi bervariasi di awal pekan ini tidak menghentikan untuk masuk ke aset berisiko seperti saham. Ini juga mempengaruhi laju harga emas.

Seperti diketahui, berdasarkan data Institute for Supply Management, indeks manufaktur turun sedikit menjadi 50,1 persen pada Oktober 2015, dan menjadi level terendah sejak Mei 2013. Adapun angka pengeluaran konstruksi naik secara musiman menjadi 0,6 persen.

“Harga emas dan perak terus tertekan di awal pekan ini, seiring data ekonomi AS bervariasi, dan kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan suku bunganya pada Desember,” kata Lawler seperti dikutip dari laman Marketwatch, Selasa (3/11/2015).

Sementara itu, analis Barclays memprediksi harga emas dapat kembali naik bila bank sentral AS memutuskan tidak menaikkan suku bunga hingga Maret 2016. Pelaku pasar melihat kemungkinan kenaikan suku bunga dilakukan pada Desember 2015. Hal itu berdasarkan survei grup FedWatch CME.

“Komentar pejabat the Fed lebih agresif membuat harga emas turun tajam. Ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga pada Maret 2016, dan jika menyadarinya itu akan mempengaruhi harga emas,” tulis riset Barclays. (bisnis.liputan.com)(dk)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.