Harga Emas Sepanjang Februari Menguat 9,8%

JAKARTA–Sepanjang Februari 2016 harga emas menguat terbesar dalam 4 tahun terakhir.  Kilau logam mulia tidak terlepas dari sentimen negatif proyeksi ekonomi global, sehingga kembali melirik emas untuk aset lindung nilai. Hal ini bisa terlihat dari naiknya harga emas pada Februari sebesar 9,8%.

Research and Analyst Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar menuturkan, harga juga semakin terdorong karena meningkatnya kepemilikan terhadap emas fisik sekitar 3,9 ton ke 1.682,6 ton bulan ini, yang menjadi pencapaian tertinggi sejak Oktober 2014. Dia berpendapat harga emas berpeluang menyentuh level US$1.300 per troy ounce pada akhir tahun.

Australia, sebagai produsen emas kedua terbesar di dunia juga menggenjot penambangan pada 2015 lalu ke level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Hal ini dilakukan untuk menambah cadangan devisa setelah mata uang Negeri Kangguru terpukul terhadap dolar AS.

“Jika harga emas sepanjang tahun masih bergulir di atas level 1.200, tren bullish akan terjaga dan menyentuh 1.300 di akhir tahun,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (29/2/2016).

Dalam minggu ini, sentimen yang mendominasi datang dari data penyerapan tenaga kerja AS atau non-farm payroll (NFP) yang dirilis Jumat (4/3). Bila data menyebutkan kenaikan serapan tenaga kerja sesuai ekspektasi, maka peluang kenaikan suku bunga The Fed secara bertahap menjadi 0,75 poin semakin besar.

Biasanya, menjelang publikasi data NFP harga emas bergerak sangat volatil. Namun, lanjut Deddy, walaupun dapat menekan harga dan permintaan, kenaikan suku bunga The Fed sudah diantisipasi pasar.

“Selama koreksi harga tidak bergulir di bawah 1.200, maka emas masih cenderung bullish,” tambahnya.

Research and Analyst Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar menuturkan, sepanjang Februari 2016 harga emas menguat terbesar dalam 4 tahun terakhir.  Kilau logam mulia tidak terlepas dari sentimen negatif proyeksi ekonomi global, sehingga kembali melirik emas untuk aset lindung nilai. Hal ini bisa terlihat dari naiknya harga emas pada Februari sebesar 9,8%.

Menurutnya, harga juga semakin terdorong karena meningkatnya kepemilikan terhadap emas fisik sekitar 3,9 ton ke 1.682,6 ton bulan ini, yang menjadi pencapaian tertinggi sejak Oktober 2014. Deddy berpendapat harga emas berpeluang menyentuh level US$1.300 per troy ounce pada akhir tahun.

Australia, sebagai produsen emas kedua terbesar di dunia juga menggenjot penambangan pada 2015 lalu ke level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Hal ini dilakukan untuk menambah cadangan devisa setelah mata uang Negeri Kangguru terpukul terhadap dolar AS.

“Jika harga emas sepanjang tahun masih bergulir di atas level 1.200, tren bullish akan terjaga dan menyentuh 1.300 di akhir tahun,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (29/2).

Dalam minggu ini, sentimen yang mendominasi datang dari data penyerapan tenaga kerja AS atau non-farm payroll (NFP) yang dirilis Jumat (4/3). Bila data menyebutkan kenaikan serapan tenaga kerja sesuai ekspektasi, maka peluang kenaikan suku bunga The Fed secara bertahap menjadi 0,75 poin semakin besar.

Biasanya, menjelang publikasi data NFP harga emas bergerak sangat volatil. Namun, lanjut Deddy, walaupun dapat menekan harga dan permintaan, kenaikan suku bunga The Fed sudah diantisipasi pasar.

“Selama koreksi harga tidak bergulir di bawah 1.200, maka emas masih cenderung bullish,” tambahnya.

(sumber: market, bisnis)

(cr)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.