Harga Emas Terbebani Sentimen Yunani

Liputan6.com, New York РHarga emas terjatuh ke level terendah dalam hampir tiga minggu terakhir pada perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta). Penurunan harga emas karena pelaku pasar memperkirakan bahwa akhirnya akan terjadi kesepakatan dalam penyelesaian utang Yunani meskipun harus melalui perdebatan yang panjang.

Mengutip Wall Street Journal, Kamis (25/6/2015), harga emas untuk pengiriman Agustus yang merupakan kontrak paling aktif diperdagangkan, berakhir turun 0,3 persen menjadi US$ 1.172,90 per ounce di Divisi Comex New York Mercantile Exchange. Harga penutupan tersebut merupakan terendah sejak 5 Juni 2015.

Hampir sebagian besar pihak memperkirakan bahwa Yunani sangat membutuhkan kucuran dana talangan agar bisa melunasi hutang-hutang yang sudah hampir jatuh tempo. Oleh sebab itu, kreditor Internasional bersikukuh dengan syarat yang mereka ajukan.

Ancaman bahwa Yunani akan keluar dari zona Eropa tidak akan terdengar bergema lagi karena negara tersebut mau tidak mau harus menerima bantuan dana talangan dari kreditor yang sebagian besar merupakan negara-negara di Eropa tersebut. Tentu saja, kreditor tersebut memberikan syarat bahwa Yunani harus masuk ke Zona Eropa.

Pelaku pasar melihat, penyelesaian utang Yunani hanya tinggal menunggu waktu saja. Hal tersebut sangat membebani harga emas karena dengan hasil kesepakatan yang baik maka emas tidak menjadi instrumen penyelamat investasi lagi.

“Para pelaku pasar melihat bahwa akan ada kesepakatan. Namun memang, kesepakatan tersebut akan terjadi menjelang detik-detik terakhir,” jelas Presiden Optionsellers.com, James Cordier. Kesepakatan di menit-menit terakhir memberikan Yunani lebih maksimal dalam bernegosiasi.

Tanpa adanya kesepakatan yang harus dilakukan sebelum akhir Juni 2015 ini, Yunani harus melunasi utang kepada IMF dengan nilai 1,55 miliar Euro yang harus dibayar secara langsung pada 30 Juni 2015.

Sentimen lain yang juga menekan harga emas adalah data yang menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi Amerika Serikat pada awal tahun ini tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan yang diyakini.

Dalam data yang direvisi menunjukkan bahwa kontraksi yang terjadi hanya di level 0,2 persen dan bukan 0,7 persen. Dengan adanya revisi data tersebut membuat pelaku pasar yakin bahwa Bank sentral Amerika Serikat akan segera menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Dengan kenaikan suku bunga tersebut harga emas cenderung turun karena logam mulia tidak memberikan dividen dan juga emas harus bersaing dengan investasi di surat utang yang memberikan imbal hasil yang lebih besar dibanding emas. (Sumber: Liputan6)

(Pr)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.