Harga Emas Terpangkas Proyeksi IMF Soal Ekonomi AS

Liputan6.com, New York – Harga emas  dunia merosot ke posisi terendah dalam lima pekan pada Jumat (5/6/2015), setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan memperingatkan soal inflasi.

Harga emas untuk pengiriman Agustus, kontrak paling aktif diperdagangkan, ditutup turun 0,8 persen menjadi US$ 1.175,20 per troy ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Ini merupakan harga terendah sejak 1 Mei, melansir laman Wall Street Journal.

Harga emas turun setelah IMF menurunkan proyeksi ekonomi AS, di saat Federal Reserve menahan diri dari keinginan untuk menaikkan suku bunganya karena prospek inflasi yang tidak pasti.

Kemerosotan data ekonomi seperti harga konsumen menjadi berita buruk untuk harga emas, di mana investor memutuskan untuk membeli aset karena mereka percaya hal itu akan terus memiliki nilai yang sama selama terjadinya inflasi. “Itu adalah paku di peti mati bagi harga emas,” kata Ira Epstein, Ahli strategi Linn & Associates LLC.

Tanda-tanda kesepakatan utang antara Yunani dan kreditor di Zona Euro juga menekan harga emas. Kreditor Yunani membuat beberapa konsesi kesepakatan yang diajukan ke Athena untuk membuka bantuan yang sangat dibutuhkan negara ini sebelum pemerintah kehabisan uang tunai bulan ini.

Kekhawatiran seputar masa depan Yunani di Zona Euro telah mendorong pembelian emas dalam beberapa pekan terakhir, sebab investor mencari lindung nilai terhadap potensi gejolak harga aset.

“Rumor kesepakatan Yunani telah membuat ketakutan,” kata Peter Hug, Direktur Perdagangan Global Kitco Metals.

Investor juga dipastikan akan menaruh perhatian pada rilis laporan nonfarm payrolls hari ini, yang menjadi indikator paling akurat tentang bagaimana ekonomi AS.

Sejumlah orang percaya ini bisa mendorong harapan jika Fed akan menaikkan suku bunganya pada bulan September, yang akan mengirim harga emas menuju ke level lebih rendah, kata Hug. (liputan6.com)(dk)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.