Harga Emas Tertinggi 3 Bulan, Terpicu Buruknya Manufaktur Tiongkok dan Eropa

Harga Emas naik ke level tertinggi tiga bulan pada penutupan perdagangan Selasa dinihari (02/02) tertekan hasil buruk manufaktur di Tiongkok dan Eropa yang memunculkan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global dan harapan untuk kebijakan moneter lebih lanjut.

Aktifitas manufaktur Tiongkok Januari turun ke level terendah sejak pertengahan 2012, sementara pertumbuhan pabrik di zona euro melambat.

Sektor manufaktur besar Tiongkok melambat pada awal tahun 2016, tergambar dari indeks pembelian manajer kembar (PMI) survei yang dirilis pada hari Senin (01/02), menandakan kelemahan dalam perekonomian negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Biro Statistik pemerintah menyatakan data PMI resmi jatuh 3,5 tahun terendah 49,4 pada Januari, lebih buruk daripada 49,7 terdaftar pada bulan Desember dan perkiraan median 49,6 dari jajak pendapat Reuters. Hal ini juga menandai bulan keenam berturut-turut bahwa indeks resmi menunjukkan kontraksi.

The Caixin / Markit PMI manufaktur, yang diterbitkan 45 menit setelah data resmi, berada di 48,4 pada bulan Januari, naik sedikit dari 48,2 yang tercatat pada bulan Desember tapi menandai kontraksi 11 bulan berturut-turut dalam aktivitas manufaktur.

Sementara itu, data non-manufaktur PMI resmi berada pada 53,5 pada Januari, dibandingkan dengan pembacaan bulan sebelumnya 54,4, menantang harapan bahwa konsumsi bisa mengambil alih manufaktur sebagai kekuatan pendorong untuk perekonomian Tiongkok.

Sedangkan kinerja bisnis manufaktur kawasan Euro pada awal tahun 2016 kurang menguntungkan dari survey yang dilakukan oleh Markit Economics terhadap 3000 pabrikan besar di Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Belanda, Irlandia dan Yunani. Namun meskipun terjadi penurunan, survey tersebut masih menunjukkan kondisi yang ekspansif.

Indikator yang menilai kinerja manufaktur tersebut atau PMI Manufaktur Eurzone bulan Januari naik ke posisi 52,3 poin sedang pada bulan Desember 2015 ada di posisi 53,2 poin. Penurunan ini terlihat pada hampir semua sub sektor seperti  dalam output, pesanan baru dan ekspor.

Data juga menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur AS terlihat sulit pulih dalam waktu dekat, sementara belanja konsumen datar di bulan Desember.

Harga emas spot naik 1,11 persen pada $ 1,128.80 per ons, setelah sempat menyentuh $ 1,128.70, level tertinggi sejak 3 November, hanya singkat dari 200-day moving average sekitar $ 1.130 per ons.

Sedangkan harga emas AS untuk pengiriman April ditutup naik 1 persen di $ 1.128 per ons.

Juga harga yang mendukung dolar AS lemah terhadap sekeranjang mata uang utama dan komentar Wakil Ketua The Fed, Stanley Fischer, yang mengatakan bahwa volatilitas yang terus-menerus bisa menekan pertumbuhan dan inflasi AS.

Pasar saham global dan harga minyak jatuh setelah laporan manufaktur yang lemah.

Sementara itu, harga Perak berjangka naik 0,79 persen menjadi $ 14,35 per ons sementara harga paladium naik 0,7 persen pada $ 502,01 per ons. Harga platinum berjangka turun 0,2 persen pada $ 872,80 per ons.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga emas berpotensi menguat dengan kekuatiran ekonomi Tiongkok dan buruknya data manufaktur global, namun harga akan berbalik lemah jika ekonomi Tiongkok hari ini membaik dan serta dollar kembali menguat. Harga emas diperkirakan menembus level Resistance $1,131.00-$1,133.00, namun jika harga turun akan menembus level Support $1,127.00-$1,125.00. (vibiznews.com)(dk)

 


Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.