Ini yang Mendorong Perkasanya Harga Emas pada Minggu Pertama 2016

Bareksa.com – Harga emas di pasar spot mengawali 2016 dengan baik, berlawanan dengan jatuhnya pasar saham di hampir seluruh belahan dunia. Data Bloomberg menunjukkan harga emas meningkat sebesar 4,1 persen sejak penutupan 31 Desember 2015 hingga akhir pekan lalu (Jumat, 8 Januari 2016).

“Emas memiliki awal yang baik pada 2016, dengan melemahnya pasar modal yang berkontribusi terhadap permintan safe haven(aset rendah risiko),” kata Jordan Eliseo, Kepala Ekonom Australia Bullion Co. dikutip dari Bloomberg.

Emas menguat 1,5 persen pada 6 Januari 2016 menyusul naiknya ketegangan  di Timur Tengah setelah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Kemudian, penguatan berlanjut sebesar 1,4 persen sehari setelahnya pasca kejatuhan indeks Shanghai sebesar 7 persen.

Grafik: Peningkatan Harga Emas Awal Tahun


sumber:Bloomberg

Jatuhnya indeks saham China meningkatkan kekhawatiran pasar terjadinya perlambatan di negara ekonomi terbesar ke-2 tersebut. Ditambah dengan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Asia Timur, permintaan atas aset safe haven meningkat dan mendorong harga emas. “Dengan jatuhnya pasar modal, meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi terhadap Iran, konflik Suriah, Korea Utara yang diklaim menguji bom Hidrogen, membuat harga ‘logam mulia kuning’ semringah,” ujar strategis BBH yang dipimpin Marc Chandler seperti dikutip dari CNBC.

Rendahnya level harga emas dalam satu tahun terakhir juga telah membuat sejumlah negara meningkatkan pembelian. Berdasarkan pada data Tradingeconomics.com, cadangan emas China pada Desember 2015 mencapai 1.762 ton, naik 104 ton dari Juni 2015 sebesar 1.658 ton. Rusia pada kuartal III tercatat memiliki 1.352 ton cadangan emas atau naik 95 ton dari kuartal II sebesar 1.275 ton. Kedua negara tersebut termasuk dalam 10 besar negara dengan cadangan emas terbesar.

Grafik: 10 Negara Dengan Cadangan Emas Terbesar


sumber: World Gold Council, Tradingeconomics, diolah Bareksa

Namun, pertumbuhan sejumlah faktor trersebut belum menjamin berlanjutnya peningkatan harga emas. Akhir pekan lalu, harga emas terkoreksi 0,36 persen setelah pasar saham China berhasil rebound 1,07 persen dari penurunan 7 persen pada hari sebelumnya. Menurut Georgette Boele, analis ABN Amro Bank NV seperti dikutip dari Bloomberg, pasar saham China yang lebih tenang dan stabilisasi yuan membuat para pemegang emas mulai merealisasi keuntungan.

Selain itu, pengumuman data upah di Amerika juga memberi tekanan lain pada pergerakan harga emas. Pada 8 Januari 2015, AS mengumumkan data non farm payrolls Desember berada pada level 292.000 jauh lebih tinggi dari perkiraan konsensus 200.000, dan realisasi pada bulan sebelumnya pada 252.000. Phil Streible, senior strategik di RJO Futures kepada Bloomberg mengatakan hal tersebut dapat mempercepat frekuensi peningkatan suku bunga Amerika Serikat, sehingga memberi tekanan pada pasar emas. (bareksa.com)(dk)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.