Investasi Emas Kian Berkilau

JAKARTA – Masyarakat Indonesia tetap melihat bahwa investasi emas masih dianggap aman dan menguntungkan. Tidak heran bila sektor investasi dalam bentuk emas kembali diminati setelah mengalami koreksi serius pada 2012.

Kondisi positif di sektor investasi emas sudah terlihat sejak tahun lalu. Hal itu dapat dibuktikan dari laporan hasil penelitian World Gold Council (WGC) yang menyebutkan bahwa total permintaan emas (perhiasan, batangan, dan koin) di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 28 persen, dari 52,9 ton (2012) menjadi 68 ton tahun lalu.

”Meski laporan ini menggambarkan angka-angka pencapaian yang sudah lalu, masih dapat kita gunakan untuk menggambarkan betapa intensifnya permintaan emas tahun lalu dan memungkinkan kita untuk memperbaiki pandangan tentang apa yang mungkin terjadi di pasar emas tahun ini,” kata Marketing Manager Logam Mulia Antam Bambang Wijanarko dalam keterangan tertulisnya.

Permintaan emas yang terus tumbuh ini dilatarbelakangi sejumlah faktor di antaranya adalah kondisi ekonomi mulai membaik dan semakin menggeliatnya kelompok kelas menengah. Menurut pakar investasi dari Capital Prica, Roy Sembel, tampaknya tahun lalu hingga sekarang permintaan terhadap emas terus naik.

”Orang yang dua tahun lalu kapok karena harga emas turun drastis dari USD1.900 per ons troy (ozt) menjadi USD1.000– 1.200 per ozt, namun kini mulai semangat lagi dengan harga emas mencapai USD1.300 per ons troy,” kata Roy.

Karena itu, investasi di sektor emas masih tetap dilirik meski dua tahun lalu mengalami keterpurukan. Namun, masyarakat dunia tak terkecuali publik dalam negeri tetap menilai bahwa model investasi perlu diversifikasi ke sektor yang lain, yaitu emas.

”Makanya, emas tetap menjadi pilihan alternatif untuk berinvestasi karena sektor ini dianggap lebih kokoh dan tangguh dari gejolak ekonomi,” tegas Roy.

Selain itu, salah satu faktor dominan yang memengaruhi tingginya permintaan emas adalah tingkat populasi kelas menengah di Indonesia yang sangat besar. Ada keinginan di antara para penghuni kelas menengah ini untuk menginvestasikan keuangan mereka dalam bentuk emas. ”Jika semakin banyak kelas menengah produktif, maka memungkinkan permintaan emas juga ikut tumbuh,” terang Roy.

Meski demikian, berinvestasi di sektor emas tetap harus bersikap waspada. Akhir-akhir ini muncul kabar yang memberitakan bahwa Jepang dan China tengah mengalami gelembung kredit (credit bubble) akibat pembangunan infrastruktur yang berlebihan. Hal ini diprediksi akan bisa memengaruhi terjadinya kredit bermasalah yang pada akhirnya mengganggu harga emas kembali.

”Tingkat permintaan emas di Indonesia akan tetap mengalami kenaikan dalam beberapa tahun ke depan,” tambah Roy.

Secara global, naiknya permintaan emas sebenarnya terjadi bukan hanya di Indonesia, namun juga di sejumlah negara di Asia, seperti di China yang mencapai total permintaan emas 1,065 metrik ton, India (974,8 ton), Hong Kong (38,1 ton), Taiwan (16,2ton), Jepang(21,3ton), Korea Selatan (17,5 ton), Thailand (140,5 ton), dan Vietnam (92,2 ton).

Di sejumlah negara di Timur Tengah dan Eropa juga mengalami kenaikan permintaan emas yang sama, baik yang dalam bentuk perhiasan, batangan, dan koin. Di Arab Saudi tren permintaan emas naik mencapai 14 persen, dari 63,4 ton pada 2012 menjadi 72,2 ton, tahun lalu. Sementara di Jerman dan Inggris hanya naik 10 persen, dan Italia, Prancis, Swiss, dan negara-negara lain di Eropa justru mengalami penurunan akibat krisis euro.

Tahun lalu, tak dapat dimungkiri, China menjadi fokus utama pasar emas dunia. Sebab, secara keseluruhan pasar emas di Negeri Tirai Bambu meningkat dari 807 ton tahun 2012, menjadi 1,066 metrik ton tahun lalu. Penurunan harga emas membuat banyak orang China berpikir untuk berinvestasi emas.

(sumber: okezone)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.