Korsel Luncurkan Pasar Spot Perdagangan Emas

Seoul – Korea Selatan meluncurkan trading exchange (pasar perdagangan ) emas untuk pertama kalinya pada awal pekan ini.

Tujuannya, untuk mengatasi pasar gelap logam mulia di negara Ginseng itu.

Di Korea Selatan, emas selundupan diperdagangkan melalui pasar gelap(undergorund) sebagai cara efektif menyembunyikan pendapatan guna menghindari pajak.

“Pasar spot emas akan membantu normalisasi sirkulasi emas yang belum diatur,” ujar ketua Komisi Jasa Keuangan Korsel Shin Je – Yoon di Seoul, Senin (24/3).

Dia juga berjanji akan meningkatkan tindakan keras terhadap transaksi emas di pasar gelap.

Data kantor Shin menyatakan dari total volume perdagangan emas Korsel yang diperkirakan 100 ton per tahun, sekitar 70 persen diperdagangkan secara ilegal. Saat ini delapan perusahaan sekuritas dan 49 importir terdaftar sebagai anggota bursa emas baru.

Pada sesi pertama perdagangan, sebanyak 5.987 gram emas senilai 280 juta won ( US$ 259.000 ) diperdagangkan. Satu gram emas batangan ditutup pada level 46.950 won, setelah mencapai titik tertinggi di harga 47.400 won.

Sebagai gambaran, sistem perdagangan ini menawarkan satu unit gram batangan emas dengan kemurnian 99,99 persen.

Sebagai insentif, pedagang memeroleh pembebasan bea masuk emas hingga 3 persen, meski masih harus membayar 10 persen pajak pertambahan nilai (PPN) untuk mengambil pengiriman fisik. Individu juga diizinkan untuk berpartisipasi dalam transaksi emas melalui perusahaan sekuritas yang terdaftar.

Pengurangan pajak menjadi magnet utama guna menarik transaksi emas ke bursa. Namun ada perdebatan mengenai apakah pemangkasan ini cukup besar untuk menarik distributor ke pasar terbuka.

Individu di Korea Selatan diperkirakan memiliki 720 ton emas, jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah cadangan bank sentral negara itu yang hanya sebesar 104 ton.

Dalam beberapa tahun terakhir emas telah menjadi investasi yang populer di tengah ekonomi yang melambat dan merosotnya pasar properti.

Selama krisis keuangan Asia Timur 1997-1998 , masyarakat menghimpun logam mulia dari rumah untuk membantu negara mengatasi krisis. Sejak krisis keuangan 2008, emas menjadi semakin menarik bagi bank sentral di seluruh dunia dan harganya meningkat karena dianggap sebagai instrumen investasi yang aman (safe haven).

(sumber: beritasatu)

(pr)


Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.