Lupakan sejenak pesona emas

JAKARTA. Pamor emas masih akan suram hingga tahun depan. Aksi Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed menaikkan suku bunga acuan melambungkan dollar AS, sehingga menggerus daya tarik logam mulia.

Mengutip Bloomberg, Kamis (17/12) pukul 16.50 WIB, harga emas pengiriman Februari 2016 di Commodity Exchange turun 0,86% ke US$ 1.067,9 per ons troi. Sepanjang tahun ini, harga emas sudah tergerus 10,12%.

Analis PT SoeGee Futures, Alwi Assegaf menilai, peluang emas untuk bangkit semakin sulit setelah Federal Open Market Committee (FOMC) merealisasikan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,50%, Kamis (17/12) dinihari waktu Indonesia.

Apalagi, The Fed memberi sinyal akan melanjutkan kenaikan secara bertahap pada tahun depan. Para pejabat The Fed memproyeksikan, suku bunga acuan bisa mencapai level 1,375% hingga akhir 2016. Rencana tersebut bisa mendorong dollar semakin berjaya.

“Sebab, kenaikan suku bunga AS mengurangi daya tarik emas sebagai aset non bunga,” papar Alwi.

Sejak spekulasi kenaikan suku bunga The Fed mencuat, harga emas terus melorot. Investor meninggalkan logam mulia. Mengutip Bloomberg, per Rabu (16/12), kepemilikan investor pada exchange trade product (ETP) merosot jadi 1.463,05 metrik ton.

Ini yang terendah sejak Februari 2009. Menurut Alwi, secara fundamental, permintaan fisik emas dari negara pengguna terbesar, seperti China dan India juga belum menunjukkan kenaikan signifikan.

Sejatinya, ada sentimen yang dapat mengangkat harga emas, seperti konflik geopolitik ataupun gejolak ekonomi. Namun, minat beli terhadap safe haven tidak terlihat. Padahal, kawasan Timur Tengah sedang dilanda konflik.

Itu sebabnya, ia menduga, hingga tutup tahun ini, harga si kuning masih bisa melorot ke US$ 1.046 per ons troi. Bahkan, tahun depan, ia memprediksi, emas bisa menguji level psikologis di US$ 1.000 per ons troi. “Jika level tersebut ditembus, harga bisa menuju ke US$ 950 per ons troi,” proyeksinya.

Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Faisyal yakin, The Fed akan mengerek suku bunga tahun depan. Sebab, data ekonomi Paman Sam, seperti data tenaga kerja dan inflasi sudah memenuhi target bank sentral.

Lebih suram di 2016

Selain itu, perekonomian global akan berangsur pulih. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Tiongkok memang masih melambat. Bahkan, tahun depan, pertumbuhannya diprediksi masih melambat. Namun, Bank Sentral China (PBOC) terus menggelontorkan stimulus, sehingga disinyalir bisa mendongkrak ekonomi.

“Jika ekonomi global pulih, AS akan semakin berani menaikkan suku bunga,” papar Faisyal, Artinya, peluang komoditas emas menguat semakin kecil. Tak heran Faisyal menduga, prospek harga emas pada tahun depan lebih suram.

Perkiraannya, support emas di level US$ 800, dengan level resistance US$ 1.200 per ons troi. Jangka pendek, Faisyal juga belum melihat peluang rebound emas. Jika data pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2015 naik, emas bahkan bisa turun ke sekitar US$ 1.000 per ons troi.

Secara teknikal, emas bergerak di bawah MA 50, 100, dan 200. Stochastic turun ke level 44,17, dan RSI turun ke level 48. Lalu, indikator MACD di area minus 0,443. Prediksinya, hari ini (18/12), emas spot turun ke kisaran US$ 1.050-US$ 1.070 per ons troi.

Adapun, sepekan mendatang, Alwi menduga, emas akan ke rentang US$ 1.058-US$ 1.085 per ons troi. (investasi.kontan.co.id)(dk)

 

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.