Penguatan Wall Street Tekan Harga Emas

Liputan6.com, New York – Harga emas berjangka ditutup lebih rendah pada perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta) setelah selama dua hari sebelumnya mampu menguat. Penurunan harga emas terjadi karena investor mengalihkan portofolionya ke pasar saham jelang libur Natal.

Mengutip MarketWatch, Rabu (23/12/2015), harga emas untuk pengiriman Februari turun sebesar US$ 6,50 per ounce atau 0,6 persen menjadi US$ 1.074,10 per ounce, setelah sebelumnya mampu naik tajam lebih dari US$ 30 dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.

Reli tajam di bursa saham Amerika Serikat (AS) terutama Indeks Dow Jones Industrial Averange (DJIA) hingga mencapai 3 digit atau mencapai 0,96 persen me level 17.417,27 menjadi penekan harga emas pada penutupan perdagangan.

Pelaku pasar berlomba untuk mengalihkan portofolio investasi ke pasar saham dari logam mulia yang menjadi instrumen safe haven. Selama ini emas memang dipandang sebagai instrumen penyelamat investasi di saat saham mengalami penurunan.

“Harga emas kemungkinan besar akan terus mengalami tekanan jelang libur nanti,” jelas Kepala Analis CMC Markets, Colin Cieszynski. Pelaku pasar saat ini sedang menimbang apakah masih tetap menaruh investasi di logam mulai atau mulai mengalihkan investasinya ke instrumen lainnya.

Harga emas terlihat tertekan sesaat setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun ini. Kenaikan bunga yang pertamakalinya sejak 2006 lalu.

Kenaikan tersebut membuat pelaku pasar menjual kepemilikan emasnya sehingga harga emas jika diihitung sejak awal tahun telah turun hampir 10 persen atau tepatnya 9,4 persen.

Kenaikan harga emas sangat memberikan tekanan kepada komoditas terutama emas karena logam mulai tersebut tidak memberikan keuntungan bunga. Keuntungan yang diperoleh dari logam mulia tersebut hanya kenaikan harga saja. (bisnis.liputan6.com)(dk)

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.