Siklus Ekonomi AS yang Matang Menyinari Emas Pada 2019 – Analis

Meskipun kecewa dengan kinerja emas pada 2018, bullish emas mempertahankan risk-off-nya saat ia mengharapkan reli emas Desember akan berlanjut sepanjang kuartal pertama 2019.

“Mengingat momentum perdagangan positif dalam emas dan peningkatan penting dalam gambaran teknis (pola crossover bullish pada grafik harian sejak pertengahan Desember, penutupan bulanan di atas moving average 20 bulanan pada bulan Desember, dan merebut kembali garis tren naik dari harga low 2015 sejak awal 2019), saya perkirakan reli harga emas akan berlanjut di kuartal pertama tahun ini,” tulis analis logam mulia Metal Bulletin Boris Mikanikrezai dalam postingan Finding Alpha pada hari Selasa.

Lingkungan makro akhirnya terlihat positif untuk emas, terutama bila dibandingkan dengan tahun lalu, kata Mikanikrezai, menyoroti melemahnya dolar AS dan Federal Reserve yang kurang agresif sebagai pendorong utama.

“Tahun ini, pematangan siklus ekonomi AS, yang baru berusia 10 tahun, akan menghasilkan dolar yang lebih lemah dan tingkat suku bunga riil AS yang lebih rendah, dilihat dari standar historis. Dengan demikian, kekuatan makro harus menjadi ramah lagi untuk logam kuning,” tulisnya. “Ini mendorong saya untuk mempertahankan pandangan bullish saya terhadap emas untuk 2019.”

Permintaan investasi ETF juga diharapkan dapat membantu harga emas menyusul penurunan tajam pada 2018.

“Permintaan moneter untuk emas akan meningkat pesat pada Q1 2019 karena kualitas asuransi emas. Momentum perdagangan positif untuk emas, menandakan kelanjutan reli dalam waktu dekat,” kata Mikanikrezai.

“Meskipun pasar keuangan telah stabil baru-baru ini karena Fed lebih ‘hati-hati’, tren volatilitas cenderung lebih tinggi, dan serangan jual-beli episodik diperkirakan terjadi pada tahun 2019. Ini akan menghasilkan lingkungan yang mengkhawatirkan bagi investor AS , dengan demikian mendukung permintaan moneter untuk emas,” tambahnya.

Analis mengakui bahwa ia berkecil hati dengan kinerja emas tahun lalu, diluar dari dorongan yang dilihat oleh para pedagang pada bulan Desember.

“Meskipun kenaikan kuat 5% pada Desember (dan 7% pada Q4 2018), emas menghasilkan kinerja negatif 1,6% tahun lalu,” katanya.

Lingkungan makro yang negatif dianggap menjadi faktor yang membuat kinerja yang buruk seperti itu, menurut Mikanikrezai, termasuk dolar AS yang semakin tinggi dan pengetatan kebijakan moneter AS.

Share
This entry was posted in Berita Emas. Bookmark the permalink.